Tawakal Dan Sabar

Tawakal Dan Sabar – Tetap ikhtiar berarti terus mengusahakan dan berbuat. Tidak diam, juga tidak fatalistis. Keyakinannya cukup kuat dan stabil. Sebesar dan semaksimal ikhtiar sebesar itulah hasil. Tentu berikhtiar maksimal dalam jalur yang diridhai-Nya. Bukan di jalur yang tidak dibenarkan, lebih-lebih menabrak banyak rambu dan ketentuan.

Sejatinya, suasana hasil terkait pada ikhtiar. Jika ikhtiar ‘sekadar-sekadar’, sekadar pula hasilnya. Jika ikhtiarnya full power, percayalah hasil tidak bakal membohongi. “Sesungguhnya Allah tidak bakal mengubah suasana suatu kaum, sebelum saat kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS ar-Ra’d [13]: 11).

Manusia terbaik adalah yang terus bergerak, gunakan tiap tiap potensi yang dia miliki untuk merebut sebuah kemenangan. Potensi yang termanfaatkan tidak cuma dari fisik, teta pi juga dari jalur ruhiyah, perumpamaan shalat, zikir, dan doa. Ikhtiar tanpa doa adalah sebuah ke-sombongan. Sebagaimana doa tidak disertai ikhtiar adalah kesia-siaan.

Keseimbangan di antara keduanya adalah sebuah keniscayaan. Maka yang tampak setelah ikhtiar maksi mal adalah bentuk penyerahan dan pemasrahan pada Zat Yang Menentukan, Allah ‘Azza wa Jalla, dengan cara membangun dan mengaransemen peribadatan dan amal saleh. Kumpulan dan harmoni ibadah dan amal shaleh adalah jabaran hak dari tawakal.

Seorang Muslim yang Tawakal Dan Sabar adalah yang menyerahkan kepada Allah SWT atas segala yang udah dilakukannya. Tawakal tidak serupa dengan pasrah. Tawakal adalah sebuah tindakan aktif, selagi pasrah adalah tindakan pasif. Tawakal mensyaratkan terdapatnya upaya kreatif dari pelakunya. Dalam Alquran, ada banyak ayat yang bicara perihal tawakal ini, setidaknya, ada 70 ayat.

Satu paket setelah ikhtiar dan Tawakal Dan Sabar adalah ikhlas. Menerima dan ridha serta sudi atas tiap tiap keputusan. Meng ikhlas kan kejadian dan ketetapan berarti menyudahi ikhtiar dengan legawa. Apa pun yang udah Allah tetapkan pasti sebe nar nya untuk kebaikan kita.

Di sanalah pentingnya sabar. Sabar adalah kebolehan menunda kesenangan dan meniti yang ada dengan penuh ketekunan, istiqamah. Kalau udah Haq tujuannya, sabar adalah strateginya. Pasti, Allah berharap kita, untuk negeri yang kami cintai ini, mendapati mutu kehidupan yang lebih baik dari apa yang udah ditetapkan dan ditakdirkan-Nya.

Sabar itu Legawa, menerima suasana dengan hati ikhlas dan mengusahakan menghindar diri untuk tidak melaksanakan perbuatan sebagai bentuk perlawanan. Sifat sabar itu diciptakan oleh Allah SWT sebagai anggota dari pelajaran hidup seluruh hal itu bakal berlaku semestinya pada selagi yang udah ditentukan.

Orang Jawa menyebutkan “durung wayahe”, belum waktunya. Karena harus ada selagi yang dibiarkan untuk menunggu sebuah proses kematangan. Sabar itu karakter mulia yang harus menempel pada diri umat manusia. Agar seluruh hal terjadi sesuai proses alaminya. Ia harus menunggu hingga selagi yang ditentukan tiba. Karena seluruh hal dalam hidup ini ada tahapan yang harus dilalui hingga menggapai finish.

Seorang anak manusia yang lahir ke dunia ini tak langsung besar dan dewasa. Ia bakal lahir berbentuk orok lemah tak berdaya, hidupnya terkait kepada ibunya. Dan seluruh orang tua bakal sabar mengasuh bayi, hingga ia besar dan amat mandiri.

Seseorang yang menghendaki sukses, harus meniti tahapan pelajaran sesuai umurnya. Dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, hingga ia berhasil menggapai maksudnya.

Adakalanya Allah bakal menguji kesabaran manusia dengan bermacam cara. Menghadapkan manusia pada suasana yang bertolak belakang dengan kemauan manusia. Manusia diuji kesabaranya sebagai cara untuk meneguhkan iman mereka. Sehingga walaupun nampak sengsara, pada hakekatnya seseorang merasakan kebahagiannya.

Sahabat Bilal bin Rabah ra, saat pada jaman kejayaan Islam ditanya oleh kawan baik lain,

“Kapan selagi yang paling berkesan dalam hidupmu wahai Bilal?”

Bilal menjawab,

“Saat paling berkesan dalam hidupku adalah saat aku tetap menjadi budak, tubuhku ditindih batu besar oleh majikanku, aku dipaksa oleh majikanku untuk meninggalkan Islam, tapi aku cuma mengucap, ahad, ahad..”

Peringkat kesabaran tertinggi manusia di bumi ini adalah para Nabi. Sehingga secara khusus Allah memberikan predikat kepada mereka sebagai Ulul Azmi berarti manusia yang tahan uji. Mampu melalui jaman sulit dan mendapatkan kejayaan dalam membela Agama Allah.

Kisah Nabi Musa as., Nabi Ibrahim as, Nabi Isa as., dan Nabi Muhammad Saw, adalah pelajaran punya nilai bagi umat manusia yang termaktub dalam Al-Qur’an dan menjadi teladan bagi tiap tiap cara kehidupan.

Manusia diuji oleh Allah sesuai persentase kekuatanya. Manusia tidak bakal diberi cobaan jika tak mampu menanggungnya.

Semakin tinggi mutu imannya, makin berat ujian yang harus dihadapinya. Pun sebaliknya makin rendah mutu keimanannya maka bakal makin ringan cobaan hidupnya .

Cobaan berkunjung kepada manusia berbentuk kekurangan pangan, diambil alih hartanya, kematian orang-orang yang dicintainya.

Bahkan yang terberat adalah berhadapan dengan karakter dan sikap orang paling dekat yang amat bertentangan dengan kemauan diri pribadi.

Dalam kitab Bahjatunnufus dikisahkan bahwa pada jaman dahulu hiduplah seorang wali. Ia miliki tunggangan seekor Singa yang amat besar, dan miliki sebuah cemeti yang mampu mengeluarkan api. Wali ini menjadi amat populer di jaman itu karena tidak cuman keunikannya miliki peliharaan seekor singa, ia juga populer kepiawaiannya dalam memecahkan bermacam masalah, agar banyak orang yang berkunjung untuk berharap nasehat kepadanya.

Ada satu hal yang menyebabkan orang kira-kira terasa risih dengan wali ini, yakni istrinya.
Istrinya adalah wanita yang amat cerewet, lebih-lebih kadang-kadang marah-marah di depan umum, agar orang-orang kira-kira terasa tidak nyaman.

Saat orang-orang mengemukakan perlilaku istrinya kepada wali ini, ia menjawab,

“Biarlah ia menjadi aset bagiku untuk tetap berlaku sabar”.

Orang-orang menganjurkan agar sang wali menceraikan istrinya dan menggantinya dengan perempuan lain yang solihah dan taat pada suami.

Dan tatkala sang wali udah bergeser istri, maka seluruh kekuatannya menjadi sirna. Ia tak lagi mampu menundukkan singanya, lebih-lebih seluruh kekuatannya hilang seketika.

Terkadang kami seluruh tidak cukup sabar dalam menghadapi cobaan hidup.

Hari ini begitu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena pandemi, PHK, kehilangan pendapatan, dan berjumpa dengan orang-orang yang karakternya bertentangan dengan dirinya. Sehingga seseorang cuma mampu berkeluh kesah tanpa berfikir bahwa itu adalah cobaan yang diberikan oleh Allah untuk menguji keimanannya.

Jalan kehidupan tetap terbentang luas di luar sana. Kita cuma harus sedikit bisnis untuk menggapai berhasil tanpa harus berputus asa. Sebab di mana ada keinginan di situlah ada jalan.

Dan soal hasil, serahkan sepenuhnya kepada Allah dengan bertawakal. Dan yakinlah bahwa bisnis tidak bakal mengkhianati hasil.

Usaha sebagai jalur untuk menggapai maksud, dan berdoa sebagai upaya berharap kepada Zat yang memberi rejeki. Dan selagi rejeki berkunjung kami cuma harus mencukupkan jika hasilnya sedikit, dan bersyukur jika mendapatkan kelimpahan.

Percayalah, Tawakal Dan Sabar adalah salah satu kunci keberhasilan hidup di dunia dan akhirat .