Sifat Yang Dicintai Allah

Sifat Yang Dicintai Allah – Manusia adalah makhluk sosial yang di didalam kehidupannya membutuhkan bantuan makhluk lain baik itu yang hidup apalagi yang mati. Dimana kehidupan dapat berjalan baik sekiranya sesama makhluk sosial saling bersosialisasi dan saling mengimbuhkan manfaat.

Sebagai umat muslim kita sudah diberi pedoman hidup yang mana sekiranya kita berpegang kepadanya maka kehidupan kita dapat berjalan bahagia, adapun pedoman berikut ialah Al Qur’an dan Al Hadits. Bila diasumsikan kehidupan manusia adalah suatu perjalanan maka Al Qur’an dan Al Hadits adalah jalan dan juga arah-arah untuk raih obyek kehidupan tersebut, maka sudah semestinya kita sebagai umat islam mengamalkan ke dua pedoman tersebut.

Salah satu yang dicontohkan oleh Al Qur’an dan Al Hadits didalam bersosial yakni kita perlu membawa karakter dermawan sebagaimana disebutkan didalam Al Qur’an: “Kamu tidak dapat beroleh kebajikan, sebelum saat anda menginfakkan sebagaian harta yang anda cintai, dan apa pun yang anda infakkan berkenaan hal itu, sungguh Allah swt Maha Mengetahui” (Al Imron: 92) didalam ayat berikut dijelaskan bahwa kebaikan yang sesungguhnya bisa kita rasakan sekiranya kita sudah menginfakkan sebagaian harta kita apalagi harta yang paling kita cintai kepada saudara kita yang membutuhkan, sesungguhnya suatu kebahagiaan yang luar bisa kita dapatkan sekiranya karena harta yang kita beri menjadikan orang lain merasakan kebahagiaan.

Rasulullah saw sebagai suri tauladan yang baik untuk kita pun mencontohkan kedermawanan, sebagaimana beliau adalah makhluk Allah swt yang paling dermawan sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Ra; “Nabi saw adalah manusia paling dermawan, terlebih pada bulan Ramadhan …” (H.R Bukhari) kita sebagai umat Rasulullah saw sudah sepantasnya selalu meniru apa yang beliau tauladankan kepada kita.

Bila karakter dermawan sudah mendarah daging didalam tubuh kita tentu saja kehidupan kita dapat senang karena dapat selalu dekat bersama Allah swt, sebagaimana Hadist nabi saw: “Orang dermawan itu dekat bersama Allah, dekat bersama surga, dekat bersama manusia dan jauh berasal dari neraka. Sedangkan orang yang baktil itu jauh berasal dari Allah swt, jauh berasal dari surga dan jauh berasal dari manusia. Sesungguhnya orang bodoh yang dermawan lebih Allah cintai berasal dari pada seorang yang ‘alim yang bakhtil” (H.R Tirmidzi)

Cinta adalah kecocokan dua hati atau dua pihak. Ia tidak bisa diperintahkan atau dipaksakan. Ia hadir sebagai buah kecenderungan dan kecocokan nilai-nilai. Cinta tidak bisa diobral bersama kata-kata. Ia perlu merupakan bukti yang didasari niat baik, hati mendalam dan jiwa mulia.

Allah SWT mencintai beberapa karakter berasal dari kepribadian seorang Muslim. Sesuai bersama dzat-Nya yang Agung, Baik, Mulia, Istimewa, dan sederat karakter baik lainnya, maka unsur-unsur kebaikan itu jadi inti berasal dari Sifat Yang Dicintai Allah.

Rasulullah SAW tunjukkan jalan kepada kita bahwa untuk punya Sifat Yang Dicintai Allah, kita perlu memenuhi ketentuan berikut ini: “Katakanlah: ‘Jika anda (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah dapat mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’.” Allah Maha Pengampun ulang Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

Iman kepada rasul, mengikuti risalahnya, menaati perintahnya, dan menjauhi larangannya merupakan kunci jadi teristimewa yang dicintai Allah. Hal itu karena kegiatan berikut jadi bukti nyata kecintaan dan keberpihakan kita pada Sifat Yang Dicintai Allah, kebaikan, kemuliaan, keistimewaan dan karakter baik lainnya yang jadi karakter asli Allah SWT.

Dalam menjawab seorang kawan baik yang inginkan jadi bagian berasal dari orang yang dicintai Allah SWT, Rasulullah SAW menyatakan, “Cintailah Apa yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya, dan bencilah apa yang dibenci oleh Allah dan rasul-Nya.” (HR. Ahmad).

Umumnya, mereka yang punya karakter berikut adalah orang-orang yang gemar berbuat baik (muhsinin), bertaubat (tawwabin), bertakwa (muttaqin) dan berserah diri (mutawakkilin) kepada Allah SWT sebagaimana berikut didalam fiman-Nya sebagai berikut:

Pertama, “Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al Baqarah: 195; QS. Ali Imran:134 dan 148; QS. Al Maidah: 13 dan 93). Muhsinin di sini adalah orang-orang yang melakukan perbaikan terus amal salehnya, melebihi beberapa syarat normalnya, dan tingkatkan nilai dan substansi kebaikannya. Kebaikan mereka melebihi kebaikan kebanyakan manusia dan di luar batas kemanusiaannya.

Kedua, “Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222). Mereka ini dicintai Allah karena selalu berhasrat mempengaruhi jaman lalu yang tidak baik jadi baik, tidak ulangi kesalahan (dosa) dan menyegerakan diri didalam garis ketuhanan semata-mata karena takut kepada Allah dan berharap ridha-Nya.

Ketiga, “Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali imran: 76; QS. At Taubah: 4 dan 7). Takwa adalah perisai, perhiasan dan bekal paling baik di dunia. Ketakwaan mencerminkan keimanan dan amal saleh. Iman dan amal saleh mengantarkan pelakunya ke surga.

Keempat, “Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran: 159). Berserah diri merupakan kegiatan yang selalu ditunaikan oleh seorang mukmin setelah merampungkan pekerjaan bersama baik dan memenuhi seluruh beberapa syarat yang diperlukan sesuai bersama kapasitasnya sebagai manusia.

Berserah diri berikut jadi prasyarat dihasilkannya obyek sesuai yang diharapkan. Selanjutnya adalah kuasa Allah SWT, Dzat yang tahu secara tentu kegaiban yang terdapat didalam sistem menuju hasil dan tujuan.

Sebagai muslimah, tentu kita inginkan mendapat mahkota dan perhiasan terindah ini. Untuk itu upayakan selalu rasa malu ini tumbuh didalam hati dan perilaku. Rasa malu bisa diupayakan bersama langkah :
1. Melihat betapa banyak nikmat dan karunia Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita.
2. Melihat betapa kurangnya kita memenuhi hak-Nya dan laksanakan hal-hal yang diwajibkan-Nya kepada kita, baik laksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya.
3. Mengetahui dan berupaya memunculkan kesadaran bahwa Allah lihat tiap-tiap suasana dan gerak-gerik kita di tiap-tiap waktu dan dimanapun kita berada. Tidak ada suatu hal pun yang tersembunyi dari-Nya.
4. Apabila perasaan ini sudah terkumpul didalam hati sanubari seorang hamba, ia dapat merasakan rasa malu yang begitu kuat kepada Allah Ta’ala. Lalu berasal dari karakter malu inilah muncul kebaikan-kebaikan lainnya.