Masjid Jogokariyan

Berawal dari langgar kecil di pojok kampung, Masjid Jogokariyan kini jadi area yang dituju banyak orang saat tengah berada di Yogyakarta. Di samping punya kegunaan utama sebagai umumnya area ibadah umat Islam, tetap tersedia keunggulan yang sanggup ditelisik dari masjid di Jl. Jogokaryan no. 36, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, ini.

Mengunjungi Masjid Jogokariyan yang terdapat di Jalan Parangtitis, Yogyakarta jemaah seolah dimanjakan. Mengapa? Yuk review keunikan di Masjid ini. Selain dikenal sebagai masjid yang sedia kan ribuan porsi buka puasa gratis setiap hari sepanjang bulan Ramadhan, ini punya program lain yang tak kalah unik. Masjid Jogokariyan bakal menukar kerugian yang dialami jemaah jika kehilangan alas kaki atau kendaraan di lingkungan masjid.

Masjid Jogokariyan di Yogyakarta jadi dibangun pada 1966. Sejarah mencatat, kampung di mana masjid ini dibangun sempat jadi basis Partai Komunis Indonesia (PKI). Hingga akhirnya, didirikanlah Masjid Jogokariyan yang digalang oleh para simpatisan Masyumi dan bagian Muhammadiyah.

Seperti yang sudah ditulis di bagian sebelumnya, semula, Kampung Jogokariyan merupakan kampung kaum “abangan” gara-gara dihuni oleh banyak abdi dalem dan prajurit Kraton Yogyakarta. Selanjutnya, kampung ini jadi basis simpatisan PKI.

Terjadinya momen berdarah Gerakan 30 September 1965 di Jakarta yang merembet sampai ke daerah, juga Yogyakarta, secara tidak langsung turut membuat perubahan karakteristik masyarakat di Kampung Jogokariyan.

Masjid Jogokariyan

Pada Juli 1966, para pengrajin batik dan tenun yang tinggal di Kampung Jogokariyan serta tergabung di dalam group Koperasi Batik “Karang Tunggal” dan Koperasi Tenun “Tri Jaya” belanja tanah wakaf seluas 600 mtr. persegi. Di lahan inilah Masjid Jogokariyan nantinya dibangun.

Dokumen formal masjid di dalam postingan berjudul “Profil Masjid Jogokariyan” karya M. Jazir diperoleh keterangan bahwa beberapa besar dari entrepreneur batik dan tenun berikut adalah simpatisan Masyumi dan bagian Muhammadiyah.

Tanggal 20 September 1965, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid. Dan akhirnya, bersamaan bersama peringatan hari kemerdekaan RI pada Agustus 1967, Masjid Jogokariyan diresmikan.

Andi Prasetya (2014) di dalam risetnya berjudul “Optimalisasi Fungsi Masjid sebagai Ruang Publik: Studi Peran Pengelola dan Transformasi Ruang Publik di Masjid Jogokariyan” menjelaskan bahwa Masjid Jogokariyan diresmikan oleh Ketua PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Kota Yogyakarta.

Awalnya, luas bangunan masjid ini berukuran 9×9 mtr. persegi, disempurnakan serambi bersama luas 9×6 mtr. persegi. Total luas kompleks Masjid Jogokariyan adalah 15×9 mtr. persegi.

Pengurus Masjid Jogokariyan menentukan tiga langkah di dalam mengurus masjid, yaitu pemetaan, pelayanan, dan pemberdayaan. Pemetaan ini merujuk pada peta dakwah yang jelas, wilayah kerja nyata, dan jamaah terdata.

Pendataan yang dilakukan pada jamaah termasuk potensi, kebutuhan, peluang, tantangan, kekuatan, dan kelemahan. terdapat pula sensus masjid yang dilakukan setahun sekali fungsi membuahkan information base dan peta dakwah komprehensif.

Tak cuma information berupa Kartu Keluarga (KK), warga mana, dan pendidikan, tapi juga siapa saja yang salat dan yang belum, yang berjamaah di masjid dan yang tidak, yang sudah berkurban dan berzakat, juga yang aktif mengikuti aktivitas masjid.

Peta Dakwah Masjid Jogokariyan menyatakan gambar kampung yang rumah-rumahnya berwarna-warni, yaitu hijau, hijau muda, kuning, dan merah. Di tiap rumah, tersedia juga atribut ikonik berupa Kakbah (sudah berhaji), unta (sudah berkurban), koin (sudah berzakat), peci, dan lain-lain. Konfigurasi rumah itu dipakai untuk mengarahkan para dai yang mencari rumah warga.Pengurus Masjid Jogokariyan menentukan tiga langkah di dalam mengurus masjid, yaitu pemetaan, pelayanan, dan pemberdayaan. Pemetaan ini merujuk pada peta dakwah yang jelas, wilayah kerja nyata, dan jamaah terdata.

Pendataan yang dilakukan pada jamaah termasuk potensi, kebutuhan, peluang, tantangan, kekuatan, dan kelemahan. terdapat pula sensus masjid yang dilakukan setahun sekali fungsi membuahkan information base dan peta dakwah komprehensif.

Tak cuma information berupa Kartu Keluarga (KK), warga mana, dan pendidikan, tapi juga siapa saja yang salat dan yang belum, yang berjamaah di masjid dan yang tidak, yang sudah berkurban dan berzakat, juga yang aktif mengikuti aktivitas masjid.

Peta Dakwah Masjid Jogokariyan menyatakan gambar kampung yang rumah-rumahnya berwarna-warni, yaitu hijau, hijau muda, kuning, dan merah. Di tiap rumah, tersedia juga atribut ikonik berupa Kakbah (sudah berhaji), unta (sudah berkurban), koin (sudah berzakat), peci, dan lain-lain. Konfigurasi rumah itu dipakai untuk mengarahkan para dai yang mencari rumah warga.

1. Manajemen Masjid

Pengelola masjid menentukan 3 langkah di dalam mengurus masjid yaitu bersama pemetaan, pelayanan, dan pemberdayaan. Pemetaan merujuk pada peta dakwah, wilayah kerja nyata, dan jamaah terdata.

Pendataan yang dilakukan pada jamaah berupa potensi, kebutuhan, peluang, tantangan, kekuatan, dan kelemahan. Pendataan itu dimaksudkan sebagai database dan peta dakwah agar aktivitas masjid sanggup lebih teratur. Database yang tersedia tidak cuma membahas hal-hal semacam itu, melainkan juga lihat jamaah yang sudah menunaikan sholat dan yang belum, jamaah yang sholat berjamaah ke masjid dan yang tidak, jamaah yang berqurban dan berzakat di Masjid Jogokariyan, serta jamaah yang aktif mengikuti aktivitas di masjid, seperti kajian, dan yang tidak.

Peta dakwah Masjid Jogokariyan menampilkan rumah yang berwarna-warni seperti hijau, hijau muda, kuning, dan merah. Serta di setiap rumah punya ikonik berupa Kakbah (sudah berhaji), unta (sudah berkurban), dan koin (sudah berzakat).

2. Undangan Datang ke Masjid

Masjid Jogokariyan punya langkah yang berlainan untuk menyebabkan para jamaah. Data jamaah yang sudah didapatkan digunakan untuk dibuatkan undangan singgah ke masjid, seperti undangan pernikahan disertakan nama bersama menyertakan kalimat ‘Mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu untuk singgah ke masjid … di dalam acara sholat Subuh berjamaah’.

Undangan berikut juga disempurnakan bersama hadis-hadis keutamaan sholat Subuh, fakta ini penyebab jamaah sholat Subuh sanggup benar-benar ramai.

3. Saldo Infak Nol Rupiah

Masjid Jogokariyan berlainan bersama masjid lainnya. Masjid ini selamanya berupaya keras di setiap pengumuman, saldo infak wajib nol rupiah.

Sangat menyedihkan jika pengumuman infak berjumlah jutaan sedangkan tetangga masjid tersedia yang tidak sanggup berobat gara-gara persoalan biaya.

Hasil infak wajib digunakan bersama benar, bukan ditimbun sampai jumlah yang banyak. Diharapkan bersama pengumuman saldo 0 rupiah masyarakat makin lama impuls untuk menginfakan hartanya.

4. Srategi Dakwah

Masjid ini punya konsep dakwah bersama tema-tema khusus setiap periodenya. Misalnya pada periode 2000-2005 kiat dakwah masjid bertekad untuk membuat perubahan aliran ajaran Islam bersama kultur Jawa jadi Islam murni.

5. Wisata Religi

Masjid ini tidak hanyak dijadikan sebagai area ibadah, tapi sebagai area kesenian, sosial, dan penggerak perekonomian. Hal ini diwujudkan bersama penginapan yang disewakan, 1 aula, dan 2 kamar yang dihidangkan untuk musafir.

Menariknya ulang Masjid ini buka sepanjang 24 jam dan tidak digembok. Semoga bersama ada Masjid Jogokariyan ini biasa beri tambahan gagasan kepada masjid lainnya di Indonesia.