Hewan Mamalia : Karakteristik dan Klasifikasi

Hewan Mamalia – Binatang menyusui atau mamalia adalah kelas hewan vertebrata yang terlebih dicirikan oleh ada kelenjar susu, yang pada betina menghasilkan susu sebagai sumber makanan anaknya; ada rambut; dan tubuh yang endoterm atau “berdarah panas”.

Otak sesuaikan sistem peredaran darah, juga jantung yang punya empat ruang. Secara filogenetik, yang disebut Mamalia adalah semua turunan berasal dari nenek moyang monotremata (seperti echidna) dan mamalia theria (berplasenta dan berkantung atau marsupial).

Karakteristik Hewan Mamalia

Sebagian besar mamalia melahirkan keturunannya, tapi ada lebih dari satu mamalia yang tergolong ke dalam monotremata yang bertelur.

Kelahiran juga terjadi pada banyak spesies non-mamalia, layaknya pada ikan guppy dan hiu martil; karenanya melahirkan bukan dianggap sebagai ciri tertentu mamalia. Demikian juga dengan cii-ciri endotermik yang juga dimiliki oleh burung.

Monotremata tidak memilki puting susu, tapi selamanya punya kelenjar susu. Artinya, monotremata memenuhi syarat untuk masuk ke dalam kelas Mamalia.

Perlu diketahui bahwa taksonomi yang sering digunakan belakangan ini sering tekankan pada kesamaan nenek moyang; diagnosa karakteristik amat bermanfaat dalam identifikasi asal usul suatu makhluk.

Jika ada keliru satu bagian Cetacea ternyata tidak punya karakteristik mamalia, maka ia bakal selamanya dianggap sebagai mamalia gara-gara nenek moyangnya mirip dengan mamalia lainnya.

Mamalia memiiki 3 tulang pendengaran dalam setiap telinga dan 1 tulang (dentari) di setiap segi rahang bawah.

Vertebrata lain yang punya telinga hanya punya 1 tulang pendengaran (yaitu, stapes) dalam setiap telinga dan paling tidak 3 tulang lain di setiap segi rahang.

Mamalia memliki integumen yang terdiri berasal dari 3 lapisan: paling luar adalah epidermis, yang sedang adalah dermis, dan paling dalam adalah hipodermis. Epidermis kebanyakan terdiri atas 30 lapis sel yang bermanfaat jadi susunan tahan air.

Sel-sel terluar berasal dari susunan epidermis ini sering terkelupas; epidermis bagian paling dalam sering membelah dan sel anakannya terdorong ke atas (ke arah luar). Bagian tengah, dermis, punya ketebalan 15-40 kali dibanding epidermis.

Dermis terdiri berasal dari beraneka komponen layaknya pembuluh darah dan kelenjar. Hipodermis tersusun atas jaringan adiposa dan bermanfaat untuk menyimpan lemak, penahan benturan, dan insulasi. Ketebalan susunan ini banyak variasi pada setiap spesies.

Klasifikasi Hewan Mamalia

Kelas mamalia terdiri atas 29 ordo menurut Mammal Species of the World (MSW), Sistem Informasi Taksonomi Terpadu (ITIS), dan Catalogue of Life, yaitu:

  • Afrosoricida
  • Artiodactyla
  • Carnivora
  • Cetacea
  • Chiroptera
  • Cingulata
  • Dasyuromorphia
  • Dermoptera
  • Didelphimorphia
  • Diprotodontia
  • Erinaceomorpha
  • Hyracoidea
  • Lagomorpha
  • Macroscelidea
  • Microbiotheria
  • Monotremata
  • Notoryctemorphia
  • Paucituberculata
  • Peramelemorphia
  • Perissodactyla
  • Pholidota
  • Pilosa
  • Primates
  • Proboscidea
  • Rodentia
  • Scandentia
  • Sirenia
  • Soricomorpha
  • Tubulidentata

Begini Kajian Dokter Hewan Dan Ahli Oseanografi Tentang Penyebab Mamalia Laut Terdampar

* Peristiwa mamalia laut terdampar jadi rutin ditemui. Tercatat ada ratusan peristiwa pada belasan th. paling akhir ini, yang belum diketahui penyebabnya dan lebih dari satu besar menyebabkan kematian
* Selain melalui jejaring pemangku kepentingan, peristiwa megafauna terdampar sering dilaporkan warga di tempat sosial gara-gara memancing kerumunan orang yang sanggup membahayakan keselamatan baik manusia maupun satwa terdampar tersebut
* Keberadaan dokter hewan berperan untuk sistem penyelamatan, pengamatan, nekropsi serta pemikiran penyebab terdampar dan kematian pada peristiwa mamalia laut terdampar. Meski berasal dari ratusan peristiwa 15 th. terakhir, lebih dari satu besar penyebab belum terjawab
* Fenomena laut, kesibukan manusia dan pergantian cuaca ekstrem jadi faktor terjadinya peristiwa mamalia laut terdampar.

Peristiwa mamalia laut terdampar jadi rutin ditemui. Salah satunya di kawasan kepulauan Indonesia bagian sedang dan timur. Dari ratusan peristiwa pada belasan th. paling akhir ini, lebih dari satu besar belum diketahui penyebabnya.

Untuk mendorong observasi, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong menghelat webinar kejadian mamalia laut terdampar perspektif dokter hewan dan peneliti oseanografi pada 3 September 2020.

Santoso Budi Widiarto, Kepala LPSPL Sorong menjelaskan wilayah kerjanya melingkupi empat provinsi yaitu Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Saat ini udah terbentuk jaringan penanganan mamalia terdampar. “Kejadiannya sukar diprediksi dan banyak belum terjawab. Medis atau oseanografis,” ujarnya. Karena itu webinar ini dihelat untuk memandang perspektif peneliti supaya sanggup hadapi peristiwa terdampar nanti. Kejadian terdampar tak hanya mamalia laut juga penyu, mola-mola, dan lainnya.

Dari datanya di wilayah empat provinsi itu pada 2018 ada kejadian 18 kasus, 7 persoalan ditangani PSPL Sorong sisanya ditangani mitra kerja dan masyarakat. Pada 2019 meningkat jadi 39 kejadian hanya lebih dari satu yang sanggup ditangani. “Karena itu pentingnya mitra kerja di kawasan ini,” lanjutnya.

Sampai Agustus 2020 udah ada 14 kejadian. Terdiri berasal dari dugong, individu mati terdiri berasal dari 4 paus dan 2 lumba-lumba. Selain perespon pertama, tantangannya adalah jarak. Misalnya wajib 2-3 hari ke wilayah kejadian jika di Halmahera Timur. Dari 100% terdampar, 72% dalam situasi mati. Dokter hewan menurutnya, amat penting untuk menambah kesempatan hidup. Tak hanya sanggup menangani mati, juga meneliti situasi habitatnya.

Seekor paus bryde (Balaenoptera brydei) terdampar di wilayah kampung Wawiyai, Distrik Tiplol Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, pada Kamis (19/3/2020). Sedangkan Andi Rusandi, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan mengingatkan pentingnya mamalia laut, predator tertinggi di ekosistem laut. Kalau tak ada mereka bakal berpengaruh ke lainnya. “Loka PSPL Sorong ini memadai berat gara-gara mewilayahi 4 provinsi,” ujarnya.

Ada 35 style mamalia laut, 2/3 ada di lautan Indonesia. Seiring pergantian kesibukan menyebabkan penurunan layaknya kejadian terdampar. Kenapa? “Jika tak ditangani bakal membusuk dengan cepat gara-gara lemaknya tinggi, selain bau juga risiko meledak gara-gara gas. Isi perut bawa bakteri, bahaya jika meledak,” sebut Andi.

Menurutnya ini juga tentang keseimbangan alam yang terganggu, ia merefleksikan munculnya COVID-19. Ia meminta jejaring penanganan konkrit, berasal dari empat wilayah LPSPL Sorong diidentifikasi desa-desa pesisir. Agar warga sanggup ikut mendokumentasikan dan mencatat kehadiran mamalia.

Peran Dokter Hewan

Dwi Suprapti, dokter hewan peneliti penyu dan mamalia laut berasal dari WWF Indonesia beri tambahan pengantar awal hingga penanganan medisnya. Disebut kejadian terdampar jika mamalia laut ditemukan di pantai atau perairan dangkal, hidup atau mati, dalam situasi tak berdaya ulang ke habitat alaminya. Termasuk terjerat jaring (by-catch).

Ia merekap persoalan tiap lima th. di Indonesia, bila ada 79 laporan, meningkat jadi 93 laporan, dan udah ada 304 kejadian.

Pada 2017 adalah laporan tertinggi yaitu 111 kejadian, tapi lebih dari satu besar tak terjawab penyebabnya. Pada 2018, ia dan sejumlah kawan dokter hewan membuat jejaring supaya ikut berkontribusi dalam penanganan terdampar yaitu Indonesia Aquatic Megafauna (IAM) Flying Vet.

perlu dibaca :Terbentuk Asosiasi Dokter Hewan ‘Terbang’ untuk Penanganan Satwa Laut Terdampar. Apa Perlunya?

Proses evakuasi dua ekor dugong oleh sejumlah instansi tentang di Ur Pulau, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku. Foto: Brian Rayangki/ WWF Indonesia“Medsos amat menolong menginformasikan kejadian. Kejadian terdampar tak hanya keselamatan hewan, juga mencari sadar penyebabnya,” urainya. Ada sejumlah indikasi penyebab terdampar. Indikasi pencemaran laut oleh limbah plastik dan polutan lain, pengaruh samping kesibukan dengan gelombang sonar, kesibukan manusia yang tidak cukup ramah lingkungan, indikasi situasi alam, gempa, cuaca buruk, dan lainnya.

Keberadaan dokter hewan berperan untuk pengamatan satwa dengan nekropsi dan analisis. Misal di persoalan bayi duyung, diindentifikasi kelebihan klorin, dan wajib sudut pandang lain pihak atau peneliti lain. Terlebih kejadian terdampar sanggup massal dan tunggal, ini butuh tim. “Di sini peran dokter hewan di investigasi klinis penyebab terdampar atau kematiannya. Juga menginformasikan keamanan layaknya potensi berasal dari zoonosis, barangkali penularan ke manusia,” sadar Dwi.

Misalnya persoalan paus sperma kerdil (Kogia sima) terjerat di air surut di Teluk Benoa, Bali, diidentifikasi terluka kena karang, stres, panik, dan kelelahan. Sampai akhirnya mati.

Dari sudut predasi, keliru satu predator mamalia laut cookiecutter shark juga dijumpai menggigit organ berarti mamalia laut. Bukan penyebab utama tapi pemicu gara-gara lukanya terinfeksi. Bisa juga sedang pemulihan, dan diserang predator ini.

Cuaca ekstrim, kebisingan, dan gempa dasar laut juga secara tak langsung tentang dengan kejadian terdampar. Semua itu menyebabkan mamalia laut mengalami disorientasi, bergerak amat aktif, dan kelelahan sesudah itu terdampar.

“Mamalia laut mencari makan memakai sonar, ada kebisingan dan terganggu. Demikian juga gempa bergerak cepat dan panik akhirnya dekompresi,” ia mencontohkan.

Indikasi mati gara-gara plastik juga wajib diidentifikasi. Ada yang sanggup terlihat sendiri berasal dari anal, tapi jika amat banyak menyebabkan penyumbatan di saluran cerna (obstruksi) menyebabkan tak nyaman, terlilit, dan terdampar. Sampah juga sanggup menyebabkan infeksi, malnutrisi jika amat banyak sampah misal penemuan hampir 6 kg sampah dalam perut paus sperma di Wakatobi. “Membuat kenyang palsu yang tak tercerna, memandang kekurusan atau perubahannya,” beber Dwi.

Kondisi paus sperma udah dipotong-potong warga ketika tim gabungan tiba. Terdapat sampah plastik basah seberat 5,9 kg dalam organ pencernaan paus malang itu. Foto: Alfi/AKKP Wakatobi/Mongabay IndonesiaPencemaran kimia sanggup juga membuat infeksi, stres. Polutan telihat di blubber, bahaya jika mengkonsumsi gara-gara pada mamalia laut terakumulasi di lemaknya. Bisa diteliti cemaran kimianya berasal dari blubber.

Penyebab lain, layaknya tertabrak kapal, kesibukan perikanan, dan bayi terpisah berasal dari induknya. Bayi duyung beda dengan dewasa, jadi wajib daerah rehab jika tak ditemukan induknya. Jika tidak, kesempatan hidupnya kecil. Misal persoalan di Sorong, setelah nekropsi, penyebab kematiannya radang lambung, barangkali saat di alam diberi makan warga. Karena ditemukan juga biji dan nasi.

Blooming alga menurut Dwi juga sanggup menyebabkan keracunan yang menyebabkan problem syaraf. Banyak penyakit infeksius pada mamalia laut layaknya virus cacar. “Ini bahaya jika dipegang tanpa pelindung tangan sanggup tertular,” ingatnya.

Jika menemukan kejadian terdampar, ia mengajak dokter hewan bergabung untuk melakukkan nekropsi meneliti penyebab kematian. Semakin awal kode terdampar (2-3), maka bakal lebih banyak pesan atau informasi yang diperoleh melalui sampel yang dilihat layaknya blubber, gigi, dan lainnya. Jika kode 4-5, udah pembusukan maka jadi minim yang sanggup diteliti hanya parasit, faktor makrokospis, dan genetika.

Lima th. paling akhir pada terkandung 304 kejadian, 80% tak terjawab gara-gara keterbatasan biaya, SDM, dan informasi. Dari 20% sisanya, tertinggi gara-gara by-catch, tertangkap manusia, luka, internal, cuaca, tertabrak kapal, predator, dan lainnya.

Penanganan mamalia terdampar menurutnya wajib pelatihan gara-gara ada penilaian dan tahapannya. “Kalau belum pernah memadai melaporkan. Sementara mamalia laut dinyamankan, diberi peneduh jika kepanasan, jika berbatu dipindah ke lebih lembut. Tak ada yang mendekat atau mengganggu. Minta arahan saat kontak respon cepat,” ujarnya merespon pertanyaan peserta.

Sebanyak 17 ekor Paus Pilot (Globicephala macrorhynchus) terdampar di pantai Desa Meniak Kecamatan Sabu Barat Kabupaten Sabu Raijua, NTT. Foto : BKKPN Kupang/Mongabay Indonesia.Analisis cuaca ekstrem

Sementara itu Agus S. Atmadipoera, peneliti Oseanografi berasal dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB memaparkan pergantian cuaca ekstrem yang sanggup mendorong peristiwa mamalia terdampar.

Sistem sirkulasi dekat permukaan berasal dari Arus lintas Indonesia (Arlindo) membawa massa air hangat dan bersalinitas rendah berasal dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia. Sistem arus berperan penting pada laut, iklim, ekosistem laut dan perikanan. Seperti migrasi satwa dan situasi terumbu karang.

Hasil riset terakhirnya, pada Musim Timur (Juli) lebih dari satu besar aliran berasal dari Samudera Pasifik barat masuk ke interior laut Indonesia. Sebaliknya di Musim Barat (Januari) menuju Samudera Pasifik.

Konfigurasi kepulauan dan topografi dasar laut pun amat kompleks. Peluang terdampar terjadi ketika pasang surut dan ada juga jebakan di perairan buka tutup dan semi tertutup layaknya teluk.

Sistem sirkulasi dekat permukaan berasal dari Arus lintas Indonesia (Arlindo) pada Musim Timur dan Musim Barat. Sumber : IPBFenomena lainnya, wilayah pembangkitan gelombang pasang surut internal yang kuat. “Di permukaan tak terlihat tapi terjadi di dasar lautnya,” urainya amat teknis. Jika gelombang mulanya 2-5 meter jadi puluhan meter, masuk akal ada persoalan dekompresi.

Namun ia menemukan perihal berlainan pada kejadian mamalia terdampar berasal dari information LPSPL Sorong. Terlihat ada variasi musiman, peningkatan periode transisi Musim Timur. “Ini menarik, aku belum menemukan perihal ini, jika terjadi saat pembalikan arus, Musim Barat,” herannya.

Sementara problem oseanografi ada tiga, cuaca ekstrim tentang siklon tropis, angin dan gelombang ekstrim, dan pembalikan arus laut yang kuat. Musim siklon tropis di belahan bumi Selatan (Australia) sering terlihat November-April tiap tahun. Kontribusinya 13% per musim. Berbahaya gara-gara menghasilkan angin ekstrim, curah hujan tinggi, dan gelombang badai. Mamalia laut berpotensi terjerat cuaca ekstrim ini dan terseret ke perairan dangkal.