Cerita Rakyat Jawa Timur

Cerita Rakyat Jawa Timur – Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi yang beribukota di kota Surabaya, terdapat di sebelah timur pulau jawa, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Madura, dan Provinsi Bali.

Banyak cerita rakyat berasal dari Jawa Timur yang tenar di Indonesia seperti Reog Ponorogo, Keong Mas, Asal Usul Banyuwangi, Cindelaras dan cerita lainnya.

Cerita disatuka berasal dari bermacam sumber (lihat referensi). Jika ada cerita terbaru, akan langsung ditambahkan. Semoga bermanfaat.

  1. Kisah Rangga Gading
    Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Rangga Gading. Ia benar-benar sakti, tapi sayangnya kerap menyalah memanfaatkan kesaktiannya dengan jalankan perampokan dan pencurian. Rangga Gading adalah pencuri yang lihai, ia tak pernah tertangkap. Hal tersebut adalah sebab ia punya kesaktian yaitu dapat membuat perubahan dirinya menjadi apa-pun yang diinginkan. Ia dapat menjelma menjadi binatang, pohon, batu, atau air.
  2. Asal Usul Reog Ponorogo
    Adalah Dewi Sanggalangit, seorang putri raja Kediri, yang tenar sebab kecantikannya. Telah banyak para pangeran dan raja yang berminat menyuntingnya menjadi istri, tapi ia tetap menolak dengan alasan belum punya permohonan untuk menikah. Kedua orang tuanya mendesak putrinya supaya langsung menikah. Mereka menginginkan secepatnya menimang cucu.
  3. Benda Ajaibnya Kucing
    Alkisah hidup sebuah keluarga yang dikenal sebagai keluarga yang sabar, Pak Sabar dan Bu Sabar. Kehidupan mereka sangatlah miskin. Saking miskinnya mereka kerapkali sehari dua hari tidak makan sebab tidak punya uang untuk membeli makanan. Namun demikian, mereka tidak mengeluh dan tetap sabar didalam menekuni kehidupan.
  4. Asal Usul Nama Surabaya
    Alkisah, zaman dahulu hidup seekor buaya besar bernama Baya. Ia membawa musuh bebuyutan seekor ikan hiu besar bernama Sura. Hampir tiap-tiap hari keduanya berkelahi. Karena sama-sama kuat, tangguh, dan tangkas, tidak ada yang menang maupun kalah. Jika keduanya tengah berkelahi, perairan di sekitarnya akan menjadi bergelombang besar dan keruh. Hewan-hewan yang hidup disekitar mereka menjadi terganggu. Hewan-hewan lainnya berusaha untuk mendamaikan keduanya. Namun Sura & Baya terus saja bermusuhan.
  5. Hai Hai Aku Sudah Tahu
    Pada masa dahulu hiduplah seorang kakek miskin dengan anak laki-lakinya yang masih kecil. Istrinya sudah lama meninggal. Si kakek sedih memikirkan nasib anaknya yang masih kecil. Ia menjadi bahwa hidupnya tidak akan lama kembali tapi tidak punya apa-pun untuk diwariskan kepada anaknya tidak cuman ilmu yang berasal berasal dari gurunya dulu.
  6. Sandhekala
    Menurut cerita rakyat Jawa Timur, terhadap saat hari menjadi senja, Den Bagus Sandhekala akan berjalan-jalan. Den Bagus Sandhekala senang memakan kepala harimau atau kepala maling. Den Bagus Sandhekala juga senang memakan kepala anak yang senang bermain-main di luar rumah terhadap saat senja tiba. Den Bagus adalah nama panggilan bagi orang muda yang dihormati, tengah Sandhekala sendiri artinya senjakala atau saat hari senja.
  7. Asal Mula Mengapa Sungai Berkelok-Kelok
    Sungai Brantas berkelok-kelok dan airnya tidak pernah habis. Hulu sungai Brantas berada di daerah Malang kemudian mengalir ke selatan sampai ke Blitar, berbelok ke Kediri dan akhirnya berbelok kembali ke Surabaya. Menurut cerita rakyat Jawa Timur, mengapa sungai berkelok-kelok dan airnya tidak pernah habis dikaitkan dengan ular-ular yang bertapa di gunung-gunung.
  8. Burung Gelatik dan Burung Betet
    Berikut ini adalah sebuah cerita rakyat berasal dari Jawa Timur mengenai asal mula mengapa burung Gelatik punya lambung atau teleh di tengkuknya dan mengapa burung Betet berparuh bengkok. Alkisah terhadap masa Nabi Sulaiman tengah berjalan musim paceklik. Penyebabnya adalah banyak penyakit yang mengakibatkan kerusakan tanaman supaya membawa dampak pangan susah didapat.
  9. Asal Mula Pohon Jati Besar-Besar
    Konon terhadap masa dahulu pohon jati berukuran kecil-kecil. Tidak berukuran besar seperti sekarang. Ukuran pohon jati membesar terhadap masa kerajaan Medang Kamulan mengenai raja Medang yang menguburkan anaknya hidup-hidup sebab menjadi malu.
  10. Asal Mula Kata Babah
    Orang Jawa biasa memanggil orang Tionghoa dengan sebutan “Babah”. Menurut cerita rakyat Jawa Timur, asal mula kata Babah berasal berasal dari kata “Mbabah” yang artinya melacak jalan. Konon, dongeng ini dibuat-buat oleh etnis Tionghoa di Indonesia untuk memelihara jarak dengan etnis Jawa.
  11. Orang Desa Tanggungan Tidak Boleh Makan Ikan Tageh
    Pada masa perang perjuangan melawan Kompeni Belanda, Sura Alap Alap diberi tugas sebagai pimpinan Rajekwesi di sebelah timur. Perang pada pejuang pribumi melawan Kompeni berjalan tidak seimbang sebab persenjataan pasukan pribumi yang tidak memadai. Khawatir akan jatuhnya banyak korban jiwa, Sura Alap Alap kemudian memerintahkan seluruh pasukannya, yang merupakan penduduk dusun situ juga, untuk pergi meninggalkan dusun tersebut.
  12. Irapati dan Seekor Buaya
    Alkisah terhadap zaman dahulu kala, hidup seorang ibu bernama Mbah Irapati yang disegani oleh penduduk di selama sungai Kuning sebab punya kesaktian. Ia punya seorang anak. Mbah Irapati benar-benar menyayangi anaknya. Di suatu hari, anak Mbah Irapati mandi di pinggir sungai Kuning. Tanpa disadarinya, seekor buaya lapar mendekat. Dengan secepat kilat si buaya menyambar si anak sampai tewas.
  13. Kyai Bonten dan Ki Jalono
    Konon, di dusun Kudur, kalau ada kematian, maka tentu dua orang meninggal bersamaan waktunya. Menurut cerita, perihal ini mengenai dengan pertalian Kyai Bonten dan Ki Jalono.
  14. Orang Desa Tingan Tidak Boleh Berjodohan Dengan Orang Desa Kapal
    Adalah Kyai Tapiogo seorang Begedhe desa Tingan. Ia berasal berasal dari Sendang Darajat. Di suatu hari, Kyai Tapiogo jalankan sedekah bumi dan mengundang Begedhe desa Kapal. Begedhe kedua desa tersebut mulanya hanya mengobrol biasa tapi lambat laun keduanya saling berbantahan. Akhirnya Begedhe desa Kapal kalah didalam pembicaraan tersebut.
  15. Asal Mula Ayam Hutan
    Sudah sejak berasal dari masa dahulu, ayam hidup berdampingan dengan manusia. Namun terhadap suatu ketika, ada sebuah keluarga ayam yang memutuskan untuk meninggalkan perkampungan manusia dan hidup di hutan. Merekalah nenek moyang ayam hutan.
  16. Buah Jeruk Emas
    Dahulu pernah bertahta seorang raja adil dan bijaksana di sebuah kerajaan di pulau Jawa. Sang raja mendapatkan wangsit atau bisikan gaib berasal dari berasal dari dewata, bahwa di seluruh lokasi kerajaan yang dipimpinnya akan ditimpa wabah. Sang dewa berikan bisikan bahwa raja mesti membawa dampak sayembara ke seluruh rakyat untuk melacak buah jeruk emas sebagai tumbal penolak wabah.
  17. Burung Gagak yang Sombong
    Alkisah, terhadap zaman dahulu kala, hiduplah seekor burung gagak di hutan belantara. Ia hidup dengan dengan kawanan burung gagak lainnya. Suatu hari, si burung gagak mendapatkan rontokan bulu burung merak yang indah. Walaupun hanya rontokan bulu, tapi bulu-bulu tersebut masih terlihat indah.
  18. Keong Mas
    Alkisah Prabu Kertamarta, Raja Kerajaan Daha, punya dua orang putri, Galuh Ajeng dan adiknya, Candra Kirana. Si sulung, Galuh Ajeng punya paras cantik, tapi Candra Kirana jauh lebih cantik. Si Bungsu Candra Kirana sudah punya tunangan, yaitu seorang pangeran tampan, putra mahkota Kerajaan Kahuripan bernama Raden Inu Kertapati. Diam-diam Si Sulung, Galuh Ajeng juga mencintai Raden Inu Kertapati. Oleh karena itu ia benar-benar iri menyaksikan keberuntungan Candra Kirana. Galuh Ajeng kemudian membawa kemauan jahat menghalau adiknya berasal dari istana Kerajaan Daha.