Berhentilah Melakukan Maksiat

Berhentilah Melakukan Maksiat – Ibnu Qayyim dulu menyebutkan bahwa kebahagiaan yang Anda lakukan di dalam berbuat dosa tanpa mengenal rasa malu kepada Allah SWT merupakan dosa besar di sisi-Nya. Demikian juga dosa era lantas yang dulu dilaksanakan tanpa rasa malu kepada-Nya.

Dalam buku Semulia Akhlak Nabi, Amru Khalid, menceritakan sebuah kisah renungan sebelum saat lakukan maksiat.

Ada seorang laki-laki mampir kepada Ibrahim bin Adham, ia berkata, “Wahai Imam, aku menginginkan bertobat dan meninggalkan semua dosa yang aku miliki. Jika suatu saat aku ulang melakukannya, tunjukkanlah padaku terapi yang sanggup menjauhi aku dari bermaksiat kepada Allah.”

Ibrahim bin Adham menjawab, “Jika Anda menginginkan bermaksiat kepada Allah, maka jangan melakukannya di atas bumi-Nya!“ Dengan heran, laki-laki itu ulang bertanya, “Di manakah aku sanggup bermaksiat terhadap-Nya?”

“Di luar bumi-Nya,” jawab Ibrahim bin Adham. Lalu laki-laki itu ulang bertanya, “Wahai Imam, bagaimana hal itu sanggup berjalan sedang bola bumi ini tersedia di dalam genggaman-Nya?”

Lalu, Ibrahim bin Adham menjawab, “Tidakkah Anda malu bahwa bola bumi ini di dalam genggaman-Nya tetapi engkau bermaksiat di atas bumi-Nya?” Ibrahim pun menambahkan, “Jika Anda menginginkan bermaksiat kepada-Nya, maka janganlah engkau memakan rezeki-Nya!”

Kemudian, laki-laki itu kebingungan. Bagaimana dirinya sanggup hidup jikalau tidak memakan rezeki dari-Nya. Ibrahim ulang bertanya kepada laki-laki itu, “Kalau gitu, tidakkah Anda malu memakan rezeki-Nya saat Anda bermaksiat kepada-Nya?”

Tanpa berhenti, Ibrahim pun menegaskannya. “Jika Anda bersikeras untuk bermaksiat kepada Allah, maka bermaksiatlah di suatu daerah yang Dia tidak akan melihatmu!”

Laki-laki itu lagi-lagi menjawab, “Bagaimana sanggup layaknya itu, sedang Dia selalu bersama dengan kita di mana pun kita berada?”

Ibrahim bin Adham menjawab, “Tidakkah Anda malu bermaksiat kepada-Nya sedang Dia lebih dekat denganmu?“

Ibrahim pun menasihati laki-laki itu. Jika tersedia malaikat maut yang mampir kepadanya saat tengah bermaksiat, Ibrahim menyarankannya untuk menunggunya sampai laki-laki itu bertaubat.

“Tidakkah anda malu saat didatangi malaikat, engkau di dalam situasi tengah bermaksiat?” tanya Ibrahim lagi.

Terus menerus Ibrahim menyebutkan kepada laki-laki itu berkenaan keinginannya lakukan maksiat tanpa rasa malu.

“Jika Anda enggan menghentikan kelakuan maksiat kepada Allah, tiba-tiba mampir para malaikat Zabaniah Jahanam menyeret Anda masuk neraka, maka katakana kepada mereka bahwa anda tidak menginginkan pergi bersama dengan mereka!” tegas Ibrahim bin Adham.

“Bagaimana barangkali aku sanggup layaknya itu?” tanya laki-laki itu.

“Tidakkah Anda malu kepada Allah sehabis paham semua penjelasan ini?” tutup Ibrahim bin Adham di dalam percakapannya itu.

Setelah penjelasan dari kisah tersebut, tidakkah kita malu saat hendak lakukan maksiat di hadapan-Nya? Dia selalu tersedia di mana pun kita berada, bahkan rezeki yang kita nikmati adalah telah diberikan oleh-Nya.

Ketika seseorang sampai pada titik suntuk di dalam kehidupannya, seringkali melacak sesuatu yang sanggup menenangkan mata batinnya. Di sinilah kadang kala hidayah Allah datang. Tidak semua orang yang berbuat maksiat akan selalu bergumul bersama dengan kemaksiatannya. Terkadang Allah memperlihatkan jalur kepadanya untuk Berhentilah Melakukan Maksiat melalui perantara orang lain.

Seperti yang dirasakan oleh seorang pemuda yang berkunjung ke Ibrahim bin Adham, guru sufi besar dan populer dari Balkh, Afganistan, yang juga kerap dipanggil bersama dengan nama Abu Ishaq. Pemuda berikut mampir bersama dengan niat menghendaki nasihat kepada Ibrahim bin Adham.

Saat bersua Ibrahim bin Adham, sang pemuda langsung menceritakan kegundahannya selama ini. Ia merasa hatinya begitu hampa sebab telah banyak berbuat maksiat dan jauh dari Allah SWT. Ia menginginkan mengakhiri kelakuan maksiatnya sehingga sanggup hidup bersama dengan tenang layaknya manusia biasa yang selalu menautkan hatinya hanya kepada Allah, tetapi ia bingung mesti di awali dari mana. Karena setiap kali Berhentilah Melakukan Maksiat, godaan selalu mampir secara bertubi-tubi sehingga ulang ulang terjerumus di dalam gelimang maksiat dan dosa.

Dengan tenang dan penuh wibawa, Ibrahim bin Adham berkata, “Wahai pemuda, aku akan memberimu lima nasihat. Jika anda sanggup lakukan nasihat ini, maka anda tidak sanggup terpenjara di dalam jeruji kemaksiatan dan hidupmu akan jauh dari malapetaka.”

“Wahai Abu Ishaq, tolong beritahukan lima nasihat itu kepadaku,” pinta pemuda itu.

Pertama, Jika tersedia keinginan berbuat maksiat di dalam hatimu, maka jangan dulu memakan rezeki yang Allah memberikan kepadamu. Karena seseorang yang berbuat maksiat tidak pantas memakan rezeki Allah.

Kedua, Jika tersedia keinginan berbuat maksiat di dalam hatimu, maka jangan dulu anda tinggal di bumi Allah SWT. Karena seseorang yang berbuat maksiat tidak pantas tinggal di bumi Allah.

Ketiga, Jika anda selalu memakan rezeki yang diberikan Allah SWT dan tinggal di bumi-Nya, saat kemaksiatan belum anda tinggalkan, pergilah ke suatu daerah yang luput dari pengawasan-Nya, lantas bermaksiatlah sesukamu. Karena tidak pantas bagi seseorang yang memakan rezeki Allah, tinggal di bumi-Nya, dan selalu diawasi oleh-Nya, tetapi masih selalu berbuat maksiat.

Keempat, Jika Malaikat maut mampir untuk mencabut nyawamu saat anda di dalam situasi bermaksiat, anda tak sanggup Berhentilah Melakukan Maksiat untuk lakukan tobat nasuha dan tidak sanggup lari daripadanya.

Kelima, Jika malaikat Zabaniah mampir mengambilmu di hari kiamat nanti, anda tak sanggup menolaknya dan tak akan terima alasan apapun darimu.